Once upon a time in Salihara art center
Since I love art and culture things and happenings, the opening of Salihara art complex in Pasar Minggu, South Jakarta, made me excited. I can say, it can be the city’s another art center — apart from the Taman Ismail Marzuki (TIM) in Central Jakarta, the Utan Kayu community in East Jakarta and the Bentara Budaya in South Jakarta.
The 3,060-square-meter and Rp 17.5 billion (about US$2 million) of modern art enclave has a gallery, library, offices, guest house, bookshop, theater and cafe. And now the art center is running the Salihara Festival.
Boasting 19 events involving dozens of artists from Indonesia and abroad, Salihara Festival will spice up life in the capital at the newly established compound of Komunitas Salihara in South Jakarta from Oct. 17 to Dec. 6.
The series of events - an exhibition, dances, plays, a lecture and music performances - are the first programs hosted by Salihara since its opening ceremony on Aug. 8, 2008. [Source]
I have been there last week and guess what? Beyond my expectation: the “atmosphere” of art complex is not so cool. Lack of parking park and situated in the road side - a narrow and crowded road.
Ah yes, please take a note, you are not allowed to pictures here without a prior permission - somehow made me scary to know about it
Follow me: twitter.com/budip

















1 obetz
yah ga blh foto dlm ruangan yah? kynya menarik nih…Kpn2 ksana ah
October 28th, 2008 at 8:03 am2 antown
waow…dari luar sudah bikin kita penasaran…
October 28th, 2008 at 8:17 am3 arham | blogpreneur
Bad impression, not allowed to taking a pics for art…. what a Damn
October 28th, 2008 at 1:00 pm4 Daus
Wah, not that cool yah?
October 28th, 2008 at 8:28 pm5 rama
Sedikit penjelasan dari penggiat Komunitas Salihara:
December 6th, 2008 at 12:30 pmLarangan memotret memang diberlakukan, namun hanya pada pementasan Argento Chamber Ensemble, Arco Renz dan Leni-Basso Dance Company–hanya 3 dari total 19 kelompok penampil di Festival Salihara. Itu pun karena permintaan langsung dari para penampil tersebut. Argento: bunyi shutter kamera mengganggu dinamika sunyi dari karya-karya yang mereka bawakan; Arco Renz dan Leni-Basso; tidak hanya bunyi shutter mengganggu dinamika sunyi, namun juga cahaya dari LCD kamera dinilai mengganggu tata cahaya yang banyak melibatkan redup dan bahkan gelap gulita. Di luar itu, kami terbuka terhadap para fotografer–baik jurnalis maupun nonjurnalis–yang tertarik untuk mengambil gambar di suatu pertunjukan. Satu catatan yang cukup menarik adalah kami mendapat cukup banyak keluhan dari para penampil dan pengunjung yang merasa terganggu dengan banyaknya bunyi shutter di sekitar mereka saat pertunjukan sedang berlangsung; belum lagi para fotografer yang selalu saja ada yang lupa mematikan lampu kilat padahal sudah diingatkan di awal. Ada ide tentang bagaimana menyiasatinya?
6 Budi Putra
Rama:
This post tells about taking pictures outside the theatre hall - around parking lot or cafe area. So, there is nothing to do with the show, ok?
December 9th, 2008 at 4:03 am